Metode Fuzzy AHP (F-AHP) dan TOPSIS banyak dipakai dalam skripsi maupun riset Sistem Pendukung Keputusan (SPK) karena mampu menggabungkan penilaian yang bersifat subjektif (lewat F-AHP) dengan perankingan alternatif yang objektif (lewat TOPSIS). Namun, banyak yang paham konsepnya tapi bingung saat harus menghitung manual langkah demi langkah.
Pada artikel ini, kita akan membahas contoh perhitungan manual F-AHP dan TOPSIS secara lengkap, mulai dari matriks perbandingan berpasangan fuzzy sampai perankingan akhir. Studi kasus yang digunakan adalah pemilihan provider internet rumahan, dengan data yang disederhanakan agar mudah diikuti dengan kalkulator atau Excel. Kombinasi kedua metode ini juga sudah banyak diterapkan pada berbagai penelitian SPK, termasuk untuk kasus sejenis yaitu pemilihan penyedia layanan internet [4] maupun kombinasi AHP-TOPSIS pada studi kasus lain [3].
Daftar isi
1. Pendahuluan
Secara garis besar, kombinasi F-AHP dan TOPSIS dalam SPK berjalan dalam dua tahap besar:
- Fuzzy AHP digunakan untuk menghitung bobot setiap kriteria berdasarkan penilaian tingkat kepentingan yang direpresentasikan dalam bentuk fuzzy (agar bisa mengakomodasi ketidakpastian penilaian manusia).
- TOPSIS digunakan untuk merangking alternatif (dalam kasus ini, paket-paket internet) berdasarkan kedekatannya terhadap solusi ideal positif dan jauhnya dari solusi ideal negatif, dengan bobot kriteria yang sudah dihasilkan dari F-AHP.
TFN adalah cara merepresentasikan sebuah nilai yang "tidak pasti" dengan tiga angka (l, m, u) — lower (batas bawah/nilai paling pesimis), middle (nilai tengah/paling mungkin), dan upper (batas atas/nilai paling optimis). Misalnya TFN (2, 3, 4) berarti "tingkat kepentingannya sekitar 3, tapi bisa serendah 2 atau setinggi 4". Inilah yang membedakan Fuzzy AHP dari AHP biasa yang hanya memakai satu angka tegas (crisp).
2. Studi Kasus dan Data
Studi kasusnya adalah pemilihan paket internet rumahan menggunakan 5 kriteria:
| Kode | Kriteria | Jenis |
|---|---|---|
| C1 | Harga | Cost (semakin kecil semakin baik) |
| C2 | Kecepatan | Benefit (semakin besar semakin baik) |
| C3 | Biaya Pemasangan | Cost (semakin kecil semakin baik) |
| C4 | FUP (Fair Usage Policy) | Benefit (semakin besar semakin baik) |
| C5 | Add-On | Benefit (semakin besar semakin baik) |
Ini menentukan arah "baik" dari sebuah kriteria. Kriteria Cost artinya nilai yang lebih kecil dianggap lebih menguntungkan (contoh: harga, biaya pasang). Kriteria Benefit artinya nilai yang lebih besar dianggap lebih menguntungkan (contoh: kecepatan internet). Penentuan ini sangat penting karena akan menentukan arah perhitungan solusi ideal pada tahap TOPSIS nanti.
Untuk mempermudah, dipilih 4 alternatif paket internet berikut sebagai contoh (A4 memakai skor ordinal 1 = Internet Only, 2 = Internet + TV untuk kriteria Add-On, dan skor 1-4 untuk kriteria FUP yang mewakili tingkatan kuota):
| Alternatif | Harga (Rp) | Kecepatan (Mbps) | Biaya Pemasangan (Rp) | FUP | Add-On |
|---|---|---|---|---|---|
| A1 - ICONNECT Regular 35 | 265.290 | 35 | 250.000 | 4 | 1 |
| A2 - Biznet Home Internet 0D | 277.500 | 400 | 250.000 | 1 | 1 |
| A3 - HOME200 (MTM) | 333.000 | 200 | 0 | 4 | 1 |
| A4 - INET+TV 50 (IndiHome) | 382.950 | 50 | 99.000 | 1 | 2 |
3. Tahap 1: Menghitung Bobot Kriteria dengan Fuzzy AHP
Metode Fuzzy AHP yang dipakai di sini adalah pendekatan Buckley (1985) [1], yaitu menghitung bobot lewat geometric mean dari matriks fuzzy, bukan metode Chang's Extent Analysis yang memakai nilai possibility degree. Berikut langkah-langkahnya.
3.1 Menyusun Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy
Berdasarkan hasil penilaian pakar/responden, disusun matriks perbandingan berpasangan antar kriteria dalam bentuk TFN (l, m, u). Nilai kebalikan (untuk sel di bawah diagonal) dihitung dengan rumus (l, m, u)-1 = (1/u, 1/m, 1/l) — perhatikan urutannya terbalik.
| Kriteria | Harga | Kecepatan | Biaya Pemasangan | FUP | Add-On |
|---|---|---|---|---|---|
| Harga | (1, 1, 1) | (2, 3, 4) | (4, 5, 6) | (4, 5, 6) | (7, 8, 9) |
| Kecepatan | (0.25, 0.33, 0.50) | (1, 1, 1) | (2, 3, 4) | (4, 5, 6) | (7, 8, 9) |
| Biaya Pemasangan | (0.17, 0.20, 0.25) | (0.25, 0.33, 0.50) | (1, 1, 1) | (2, 3, 4) | (4, 5, 6) |
| FUP | (0.17, 0.20, 0.25) | (0.17, 0.20, 0.25) | (0.25, 0.33, 0.50) | (1, 1, 1) | (4, 5, 6) |
| Add-On | (0.11, 0.13, 0.14) | (0.11, 0.13, 0.14) | (0.17, 0.20, 0.25) | (0.17, 0.20, 0.25) | (1, 1, 1) |
3.2 Menghitung Nilai Sintesis Fuzzy (Geometric Mean)
Untuk setiap baris kriteria i, dihitung nilai ri yaitu rata-rata geometris dari seluruh nilai TFN pada baris tersebut, dengan rumus:
ri = ( li1 × li2 × ... × lin )1/n (dihitung terpisah untuk komponen l, m, dan u)
Rata-rata geometris (bukan rata-rata aritmatika) dipilih karena secara matematis lebih sesuai untuk data hasil perbandingan rasio/skala (seperti skala Saaty 1-9), yang sifatnya multiplikatif bukan aditif. Ini adalah rumus standar yang diperkenalkan Buckley untuk Fuzzy AHP.
Perhitungan untuk baris Harga (n = 5 kriteria):
- l = (1 × 2 × 4 × 4 × 7)1/5 = 2,9515
- m = (1 × 3 × 5 × 5 × 8)1/5 = 3,5944
- u = (1 × 4 × 6 × 6 × 9)1/5 = 4,1930
Dengan cara yang sama untuk seluruh baris, diperoleh:
| Kriteria | ri = (l, m, u) |
|---|---|
| Harga | (2,9515 , 3,5944 , 4,1930) |
| Kecepatan | (1,6952 , 2,0913 , 2,5508) |
| Biaya Pemasangan | (0,8027 , 1,0000 , 1,2457) |
| FUP | (0,4884 , 0,5818 , 0,7155) |
| Add-On | (0,2028 , 0,2287 , 0,2637) |
3.3 Menghitung Bobot Fuzzy dan Defuzzifikasi
Langkah berikutnya adalah menjumlahkan seluruh nilai ri per komponen, lalu mencari kebalikannya (dengan urutan terbalik, sama seperti langkah 3.1):
- Jumlah l = 2,9515 + 1,6952 + 0,8027 + 0,4884 + 0,2028 = 6,1407
- Jumlah m = 3,5944 + 2,0913 + 1,0000 + 0,5818 + 0,2287 = 7,4962
- Jumlah u = 4,1930 + 2,5508 + 1,2457 + 0,7155 + 0,2637 = 8,9687
Nilai kebalikan jumlah (l', m', u') = (1/8,9687 , 1/7,4962 , 1/6,1407) = (0,1115 , 0,1334 , 0,1629)
Bobot fuzzy wi = ri × (l', m', u') dihitung per komponen (l×l', m×m', u×u'). Contoh untuk Harga:
- l = 2,9515 × 0,1115 = 0,3291
- m = 3,5944 × 0,1334 = 0,4795
- u = 4,1930 × 0,1629 = 0,6828
Karena bobot fuzzy masih dalam bentuk TFN, perlu di-defuzzifikasi (diubah jadi satu angka tegas/crisp) memakai rata-rata sederhana (l+m+u)/3, lalu dinormalisasi (dibagi total) agar seluruh bobot berjumlah 1.
Defuzzifikasi adalah proses mengubah angka fuzzy (yang berbentuk rentang/TFN) menjadi satu angka tegas (crisp) agar bisa langsung dipakai sebagai bobot numerik biasa. Metode paling umum dan paling sederhana adalah rata-rata dari tiga komponennya: (l + m + u) / 3.
Contoh perhitungan untuk kriteria Harga, dengan bobot fuzzy (0,3291 , 0,4795 , 0,6828) dari langkah sebelumnya:
- Defuzzifikasi = (l + m + u) / 3 = (0,3291 + 0,4795 + 0,6828) / 3 = 1,4914 / 3 = 0,4971
Lakukan hal yang sama untuk keempat kriteria lainnya, sehingga diperoleh nilai defuzzifikasi Kecepatan = 0,2945; Biaya Pemasangan = 0,1419; FUP = 0,0829; dan Add-On = 0,0320. Jika seluruh nilai defuzzifikasi ini dijumlahkan:
- Total = 0,4971 + 0,2945 + 0,1419 + 0,0829 + 0,0320 = 1,0484
Terlihat totalnya belum genap 1 (karena proses defuzzifikasi dengan rata-rata sederhana tidak otomatis menghasilkan jumlah = 1), sehingga setiap nilai perlu dinormalisasi dengan cara dibagi total tersebut. Untuk Harga:
- Bobot akhir Harga = 0,4971 / 1,0484 = 0,4742
Dengan cara pembagian yang sama (nilai defuzzifikasi masing-masing kriteria dibagi 1,0484), diperoleh seluruh bobot akhir pada tabel berikut:
| Kriteria | Bobot Fuzzy (l, m, u) | Defuzzifikasi | Bobot Akhir (Normalisasi) |
|---|---|---|---|
| Harga | (0,3291 , 0,4795 , 0,6828) | 0,4971 | 0,4742 |
| Kecepatan | (0,1890 , 0,2790 , 0,4154) | 0,2945 | 0,2809 |
| Biaya Pemasangan | (0,0895 , 0,1334 , 0,2029) | 0,1419 | 0,1354 |
| FUP | (0,0545 , 0,0776 , 0,1165) | 0,0829 | 0,0790 |
| Add-On | (0,0226 , 0,0305 , 0,0430) | 0,0320 | 0,0305 |
| Total | 1,0000 | ||
3.4 Uji Konsistensi (Consistency Ratio)
Sebelum bobot dipakai lebih jauh, penilaian pakar pada matriks perbandingan harus diuji konsistensinya. Karena uji konsistensi murni pada matriks fuzzy cukup kompleks, cara yang umum dipakai adalah mengambil nilai tengah (m) dari setiap TFN untuk membentuk matriks crisp, lalu menjalankan uji konsistensi AHP klasik (Saaty) [5].
λmaks (lambda maksimum) adalah nilai yang mengukur seberapa "rasional" penilaian perbandingan berpasangan yang diberikan. Semakin dekat λmaks dengan jumlah kriteria (n), semakin konsisten penilaiannya. CR (Consistency Ratio) adalah rasio yang dihitung dari λmaks untuk menentukan apakah penilaian tersebut bisa diterima (CR ≤ 0,1) atau harus diulang (CR > 0,1).
Rumus λmaks untuk setiap baris i: λi = (Σ aij × wj) / wi, kemudian λmaks = rata-rata seluruh λi.
Pertama, bentuk dulu matriks crisp aij dengan mengambil nilai tengah (m) dari setiap sel TFN pada matriks di Langkah 3.1 (misalnya sel Harga-Kecepatan TFN-nya (2, 3, 4), diambil nilai tengahnya saja = 3):
| aij | Harga | Kecepatan | Biaya Pemasangan | FUP | Add-On |
|---|---|---|---|---|---|
| Harga | 1 | 3 | 5 | 5 | 8 |
| Kecepatan | 1/3 | 1 | 3 | 5 | 8 |
| Biaya Pemasangan | 1/5 | 1/3 | 1 | 3 | 5 |
| FUP | 1/5 | 1/5 | 1/3 | 1 | 5 |
| Add-On | 1/8 | 1/8 | 1/5 | 1/5 | 1 |
Contoh perhitungan untuk baris Harga (aij = 1, 3, 5, 5, 8) dikalikan dengan bobot akhir wj = (0,4742 , 0,2809 , 0,1354 , 0,0790 , 0,0305) dari Langkah 3.3:
- 1 × 0,4742 = 0,4742
- 3 × 0,2809 = 0,8427
- 5 × 0,1354 = 0,6770
- 5 × 0,0790 = 0,3950
- 8 × 0,0305 = 0,2440
Weighted Sum Harga = 0,4742 + 0,8427 + 0,6770 + 0,3950 + 0,2440 = 2,6329
Kemudian λHarga = Weighted Sum ÷ wHarga = 2,6329 ÷ 0,4742 = 5,5523
Dengan cara perkalian dan pembagian yang sama pada baris Kecepatan, Biaya Pemasangan, FUP, dan Add-On (masing-masing dikalikan dengan seluruh bobot wj, lalu dibagi dengan bobotnya sendiri), diperoleh:
| Kriteria | Weighted Sum (Σ aij × wj) | λi |
|---|---|---|
| Harga | 2,6329 | 5,5523 |
| Kecepatan | 1,4842 | 5,2836 |
| Biaya Pemasangan | 0,7134 | 5,2686 |
| FUP | 0,4277 | 5,4133 |
| Add-On | 0,1678 | 5,5006 |
λmaks = rata-rata (5,5523 + 5,2836 + 5,2686 + 5,4133 + 5,5006) / 5 = 5,4037
Consistency Index: CI = (λmaks - n) / (n - 1) = (5,4037 - 5) / (5 - 1) = 0,1009
Consistency Ratio: CR = CI / RI, dengan RI (Random Index) diambil dari tabel baku Saaty berikut, sesuai jumlah kriteria (n) yang digunakan:
| n | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| RI | 0 | 0 | 0,58 | 0,90 | 1,12 | 1,24 | 1,32 | 1,41 | 1,45 | 1,49 |
Karena jumlah kriteria pada studi kasus ini n = 5, maka RI yang dipakai adalah 1,12.
CR = 0,1009 / 1,12 = 0,0901
4. Tahap 2: Perankingan Alternatif dengan TOPSIS
Setelah bobot kriteria diperoleh dari Fuzzy AHP, tahap selanjutnya adalah merangking 4 alternatif paket internet menggunakan TOPSIS (Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution) yang pertama kali diperkenalkan oleh Hwang dan Yoon [2].
4.1 Normalisasi Matriks Keputusan
Setiap nilai pada matriks keputusan dinormalisasi menggunakan normalisasi vektor, dengan rumus:
rij = xij / √( Σ xij2 )
Normalisasi vektor (Euclidean norm) dipakai di TOPSIS karena hasil normalisasinya membuat setiap kolom memiliki "panjang vektor" = 1, sehingga jarak antar alternatif pada tahap berikutnya (jarak ke solusi ideal) tetap terjaga proporsinya. Ini berbeda dengan normalisasi min-max yang biasa dipakai di metode SAW.
Pertama hitung dulu penyebutnya (akar dari jumlah kuadrat seluruh alternatif) untuk setiap kriteria. Contoh perhitungan untuk kriteria Harga, menggunakan data keempat alternatif dari tabel studi kasus (265.290 , 277.500 , 333.000 , 382.950):
- 265.290² = 70.378.784.100
- 277.500² = 77.006.250.000
- 333.000² = 110.889.000.000
- 382.950² = 146.650.702.500
Penyebut Harga = √(70.378.784.100 + 77.006.250.000 + 110.889.000.000 + 146.650.702.500) = √404.924.736.600 = 636.336,97
Dengan cara yang sama (setiap nilai pada kolom kriteria dikuadratkan, dijumlahkan, lalu diakar) untuk keempat kriteria lainnya, diperoleh:
| Kriteria | Penyebut (√Σx²) |
|---|---|
| Harga | 636.336,97 |
| Kecepatan | 451,36 |
| Biaya Pemasangan | 367.152,56 |
| FUP | 5,83 |
| Add-On | 2,65 |
Contoh untuk A1 (ICONNECT Regular 35), kriteria Harga: 265.290 / 636.336,97 = 0,4169. Dengan cara yang sama untuk seluruh sel, diperoleh matriks ternormalisasi:
| Alternatif | Harga | Kecepatan | Biaya Pemasangan | FUP | Add-On |
|---|---|---|---|---|---|
| A1 - ICONNECT Regular 35 | 0,4169 | 0,0775 | 0,6809 | 0,6860 | 0,3780 |
| A2 - Biznet Home Internet 0D | 0,4361 | 0,8862 | 0,6809 | 0,1715 | 0,3780 |
| A3 - HOME200 (MTM) | 0,5233 | 0,4431 | 0,0000 | 0,6860 | 0,3780 |
| A4 - INET+TV 50 (IndiHome) | 0,6018 | 0,1108 | 0,2696 | 0,1715 | 0,7559 |
4.2 Matriks Ternormalisasi Terbobot
Setiap nilai pada matriks ternormalisasi dikalikan dengan bobot kriteria hasil Fuzzy AHP: vij = wj × rij
Contoh untuk A1 (ICONNECT Regular 35), kriteria Harga: nilai ternormalisasinya pada Langkah 4.1 adalah 0,4169, dikalikan dengan bobot Harga (0,4742) dari hasil Fuzzy AHP:
- vHarga = wHarga × rHarga = 0,4742 × 0,4169 = 0,19769
Dengan cara perkalian yang sama (setiap nilai ternormalisasi dikalikan bobot kriterianya) untuk seluruh sel, diperoleh matriks ternormalisasi terbobot berikut:
| Alternatif | Harga (w=0,4742) | Kecepatan (w=0,2809) | Biaya Pemasangan (w=0,1354) | FUP (w=0,0790) | Add-On (w=0,0305) |
|---|---|---|---|---|---|
| A1 - ICONNECT Regular 35 | 0,19769 | 0,02178 | 0,09220 | 0,05419 | 0,01153 |
| A2 - Biznet Home Internet 0D | 0,20679 | 0,24894 | 0,09220 | 0,01355 | 0,01153 |
| A3 - HOME200 (MTM) | 0,24815 | 0,12447 | 0,00000 | 0,05419 | 0,01153 |
| A4 - INET+TV 50 (IndiHome) | 0,28538 | 0,03112 | 0,03651 | 0,01355 | 0,02306 |
4.3 Menentukan Solusi Ideal Positif dan Negatif
Solusi ideal positif (A+) dan negatif (A-) ditentukan dari nilai maksimum/minimum setiap kolom pada matriks terbobot, arahnya tergantung jenis kriteria (Cost/Benefit):
- Kriteria Benefit: A+ = nilai maksimum, A- = nilai minimum
- Kriteria Cost: A+ = nilai minimum, A- = nilai maksimum
| Harga (Cost) | Kecepatan (Benefit) | Biaya Pemasangan (Cost) | FUP (Benefit) | Add-On (Benefit) | |
|---|---|---|---|---|---|
| A+ | 0,19769 | 0,24894 | 0,00000 | 0,05419 | 0,02306 |
| A- | 0,28538 | 0,02178 | 0,09220 | 0,01355 | 0,01153 |
4.4 Menghitung Jarak ke Solusi Ideal
Jarak setiap alternatif ke solusi ideal positif (D+) dan negatif (D-) dihitung menggunakan jarak Euclidean:
Di+ = √( Σ (vij - Aj+)2 ) dan Di- = √( Σ (vij - Aj-)2 )
Contoh perhitungan untuk A1 (ICONNECT Regular 35), dengan nilai terbobot (0,19769 , 0,02178 , 0,09220 , 0,05419 , 0,01153) dari Langkah 4.2:
Jarak ke A+ (0,19769 , 0,24894 , 0,00000 , 0,05419 , 0,02306):
- (0,19769 - 0,19769)² = 0
- (0,02178 - 0,24894)² = 0,05160
- (0,09220 - 0,00000)² = 0,00850
- (0,05419 - 0,05419)² = 0
- (0,01153 - 0,02306)² = 0,00013
D1+ = √(0 + 0,05160 + 0,00850 + 0 + 0,00013) = √0,06023 = 0,24542
Jarak ke A- (0,28538 , 0,02178 , 0,09220 , 0,01355 , 0,01153):
- (0,19769 - 0,28538)² = 0,00769
- (0,02178 - 0,02178)² = 0
- (0,09220 - 0,09220)² = 0
- (0,05419 - 0,01355)² = 0,00165
- (0,01153 - 0,01153)² = 0
D1- = √(0,00769 + 0 + 0 + 0,00165 + 0) = √0,00934 = 0,09664
Dengan cara perhitungan yang sama untuk ketiga alternatif lainnya, diperoleh:
| Alternatif | D+ | D- |
|---|---|---|
| A1 - ICONNECT Regular 35 | 0,24542 | 0,09664 |
| A2 - Biznet Home Internet 0D | 0,10182 | 0,24036 |
| A3 - HOME200 (MTM) | 0,13480 | 0,14860 |
| A4 - INET+TV 50 (IndiHome) | 0,24108 | 0,05763 |
4.5 Nilai Preferensi dan Perankingan Akhir
Nilai preferensi (Vi) atau sering disebut closeness coefficient dihitung dengan rumus:
Vi = Di- / ( Di+ + Di- )
Semakin besar D- (jauh dari solusi terburuk) dan semakin kecil D+ (dekat dengan solusi terbaik), semakin besar pula nilai Vi yang dihasilkan (mendekati 1). Jadi alternatif dengan Vi tertinggi adalah alternatif yang paling direkomendasikan.
Contoh perhitungan untuk A2 (Biznet Home Internet 0D), dengan D2+ = 0,10182 dan D2- = 0,24036 dari Langkah 4.4:
- V2 = D2- / (D2+ + D2-) = 0,24036 / (0,10182 + 0,24036) = 0,24036 / 0,34218 = 0,7024
Dengan cara pembagian yang sama untuk ketiga alternatif lainnya, diperoleh nilai preferensi dan ranking akhir sebagai berikut:
| Alternatif | Nilai Preferensi (Vi) | Ranking |
|---|---|---|
| A2 - Biznet Home Internet 0D | 0,7024 | 1 |
| A3 - HOME200 (MTM) | 0,5243 | 2 |
| A1 - ICONNECT Regular 35 | 0,2825 | 3 |
| A4 - INET+TV 50 (IndiHome) | 0,1929 | 4 |
5. Kesimpulan
Perhitungan manual F-AHP dan TOPSIS bisa dipecah menjadi dua tahap besar: Fuzzy AHP untuk menentukan bobot kriteria secara objektif dari penilaian yang bersifat fuzzy, dan TOPSIS untuk merangking alternatif berdasarkan kedekatannya dengan solusi ideal. Beberapa hal yang paling penting untuk diperhatikan agar hasil perhitungan valid:
- Pastikan matriks perbandingan berpasangan pada F-AHP konsisten (CR ≤ 0,1) sebelum bobotnya dipakai.
- Tentukan dengan benar jenis kriteria Cost atau Benefit, karena akan menentukan arah solusi ideal positif/negatif pada TOPSIS.
- Gunakan rumus normalisasi vektor (bukan min-max) pada tahap normalisasi matriks TOPSIS.
6. Referensi
Rumus dan tahapan perhitungan pada artikel ini merujuk pada sumber-sumber berikut:
- Buckley, J. J. (1985). Fuzzy hierarchical analysis. Fuzzy Sets and Systems, 17(3), 233–247. https://doi.org/10.1016/0165-0114(85)90090-9 — sumber utama rumus geometric mean (Langkah 3.2 dan 3.3) yang digunakan untuk menghitung bobot fuzzy kriteria.
- Hwang, C. L., & Yoon, K. (1981). Multiple Attribute Decision Making: Methods and Applications, A State-of-the-Art Survey. Springer-Verlag. https://doi.org/10.1007/978-3-642-48318-9 — sumber utama seluruh tahapan TOPSIS (Langkah 4.1–4.5): normalisasi vektor, solusi ideal positif/negatif, dan nilai preferensi.
- Ridho, M. R., Hairani, H., Latif, K. A., & Hammad, R. (2021). Kombinasi Metode AHP dan TOPSIS untuk Rekomendasi Penerima Beasiswa SMK Berbasis Sistem Pendukung Keputusan. Jurnal Tekno Kompak, 15(1), 26. https://doi.org/10.33365/jtk.v15i1.905 — contoh penerapan kombinasi AHP dan TOPSIS pada studi kasus SPK lain di Indonesia.
- Prasongko, N. D., & Gernowo, R. (2015). Metode Quality Function Deployment dan Fuzzy TOPSIS untuk Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Perusahaan Penyedia Jasa Internet. Jurnal Sistem Informasi Bisnis, 5(2), 137–144. https://doi.org/10.21456/vol5iss2pp137-144 — referensi studi kasus sejenis (pemilihan penyedia layanan/provider internet) yang menggunakan pendekatan fuzzy TOPSIS.
- Salomon, V. A. P., & Gomes, L. F. A. M. (2024). Consistency Improvement in the Analytic Hierarchy Process. Mathematics, 12(6), 828. https://doi.org/10.3390/math12060828 — rujukan rumus Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR) yang dipakai pada Langkah 3.4.

Posting Komentar